Buy Wanna Be for a Small Family

 

Advertisements

Photoshoot: Amazing Trip to Ciwidey :)

———-

————–

————

———–

————

————-

————

————-

————–

———–

Dia Dia Dia..

Dia Dia Dia

Akhirnya akhirnya aku temukan
Wajah yang mengalihkan duniaku

Membuat diriku sungguh-sungguh
Tak berhenti mengejar pesonanya
‘kan ku berikan yang terbaik
‘tuk membuktikan cinta kepadanya

Dia dia dia cinta yang ku tunggu tunggu tunggu
Dia dia dia lengkapi hidupku

Dia dia dia cinta yang ‘kan mampu mampu mampu
Menemaniku mewarnai hidupku

Dia dia dia…
Dia..

Baiknya putihnya bidadariku
Cantiknya hiasi hari-hariku

Dia Dia dia…
Dia..

Romansa Ayah dan Anak

Beratapkan gugusan bintang gemintang yang berkelap-kelip, kami berjalan pulang dikelilingi beberapa petak sawah yang padinya belum menguning. Udara dingin yang berhembus mencari-cari celah untuk memasuki baju takwa yang kami kenakan. Di leherku, si Kecil yang baru berumur empat tahun mengeratkan jepitan kakinya dan menepuk-nepuk peciku bersemangat. Ya, kami baru pulang menunaikan solat subuh di mesjid tak jauh dari rumah kami. Hari ini dengan sengaja kupilih jalan pulang yang lebih jauh dari biasanya melewati sawah-sawah untuk sambil mengajaknya jalan-jalan.

Suara-suara alam memenuhi telinga kami. Suara gemericik air yang mengalir lembut, hembusan angin yang mendesir, dan suara-suara penghuni sawah lainnya yang seakan-akan masih terjaga sejak malam hingga subuh ini. Dengan hati-hati aku melangkahkan kaki agar tak terpeleset di pematang sawah ditengah pagi yang masih gelap ini. Si kecil entah kenapa diam tak bersuara, anteng pikirku. Kulihat kepalanya berputar-putar 360 derajat memperhatikan setiap detail suasana selepas subuh ini.

Si kecil bertanya, “Yah, itu suara apa?” (sambil menunjuk).

Aku balik bertanya, ” Yang mana?”

Si kecil :  “Yang tadi..” (memeluk kepalaku lebih  erat)

Aku : ” Oh itu suara katak sawah..” (sambil menjaga keseimbangan)

Didalam hati aku bergumam, anakku ternyata mirip sama ibunya, pas lagi memeluk erat banget sampai-sampai hampir mau jatuh haha

Si Kecil : “Yah, bintang kok banyak banget? kok kelap-kelip?” (menunjuk ke langit)

Aku : “Kelap-kelip karena bintang jaraknya jauh banget dari kita..cahayanya kesulitan sampai ke bumi jadinya kelap-kelip” (mencoba menjawab dengan jawaban yang simpel sesuai dengan usianya, padahal yang ingin aku sampaikan sebenernya : karena cahaya bintang terdifraksi oleh perbedaan kerapatan lapisan atmosfer bumi sehingga intensitas cahayanya terlihat  berubah-berubah haha)

Si Kecil : “Ooh..”

Aku : “Iya, bagus ya bintang-bintangnya.. itu semua ciptaan Allah, bintang-bintang tetep ada di langit dan bikin pemandangan yang indah buat orang-orang yang bangun pas subuh..makanya adik harus bangun pas solat subuh ya?”

Si Kecil : “Iyaaa..” (jawabnya santai)

Tak lama kemudian karena terlalu erat dipegang peci yang si Kecil pegang lepas dari kepalaku

Aku : “Adik, peci ayah pasangin lagi dong”

Si Kecil : “Buat Adik aja ya Yah..” (tertawa)

Aku : “Waahh Adik kembaliin peci Ayah.. (sambil bercanda berusaha mengambil peci dari si Kecil di atas pundak)

Si Kecil : ” Ga boleh…” (tertawa)

Aku : “Balikin doong.. nanti dijatuhin ke sawah loh haha..” (memiring-miringkan badan ke arah sawah)

Si Kecil : (tertawa terbahak-bahak)

Pagi pun sudah hampir menjelang, tak terasa udara mulai menghangat, dan matahari pun muncul. Di perjalanan pulang kami pun membelikan oleh-oleh sebungkus permen yang dibeli Si Kecil di warung yang kita kunjungi untuk Ibunda tercinta yang sudah menunggu di rumah..

Kusebut Engkau Dewi Pagi

Udara pagi selepas subuh menyelimutiku dengan kesejukannya. Membawaku semakin tenggelam di dalam tidurku, semua semakin meredup memasuki alam mimpi, lalu sesaat setelah itu menjadi terang menampakkan seluruh angan-angan yang tersimpan di dalam hati. Aku menangis, tersenyum, menyesal, tertawa, bahagia, sedih, bersyukur,  semuanya berpadu-padan bagai membentuk sebuah aliran emosi yang mengalir deras. Namun sebenarnya saat ini aku masih tersadar. Aku masih bisa merasakan cahaya matahari yang mulai masuk dari jendela kamarku meski mataku saat ini tertutup. Aku masih sadar bahwa angan-angan itu nyata adanya beserta ribuan emosi yang menyertainya.

Kusebut Engkau Dewi Pagi

Bergerak lincah memasuki relung-relung hatiku, menebar kesejukan dan kenyamanan yang dalam

Sungguh kecantikanmu, pesonamu, khayalmu, adalah ciptaan-Nya yang terindah

Setiap detak jantungku dan tarikan nafasku tak henti-henti memujimu ketika kita bertemu

Kudengar burung-burung berkicau menyampaikan sukacita melihat senyumanmu

Teman masa kecilku telah tumbuh menjadi Dewi Pagi

Dan tak terasa kini kami telah dewasa

Saat ini tak ada ensiklopedia kata yang dapat menuliskan seluruh perasaanku padamu

Tak ada tangkai bunga yang cukup untuk bisa menyampaikan perasaan ini

Dalamnya lautan pun tak dapat membendungnya

Aku berdo’a

Semoga engkau selalu dalam lindungan-Nya

Tetaplah menjadi Dewi Pagi ku

Aku berusaha

Semoga kita akan selalu bersama


Rumah Masa Depan

Malam ini pukul 1 pagi tepat, masih belum menemukan desain rumah yang aku impikan di masa depan. Memang belum kebetulan nemuin yang cocok. Daripada pusing karena ngeliatin entah beratus-ratus foto hehe mendingan dengerin lagu “Saat Bahagia” yang dinyanyiin Dea featuring Tia malem ini. What a relaxful night listening this song (and her voice) sambil telungkup di kasur. Jadi ga kerasa ngantuk dan yang ada malah inspirasi,,yes she is my inspiration 🙂

Okay sekarang aku mulai menulis mengenai rumah impianku setelah menikah. Untuk gambar-gambarnya memang ga semuanya cocok tapi cukup merepresentasikan. Pertama-tama konsep rumah yang aku inginkan adalah rumah yang tidak besar, sederhana namun yang pasti dapat membuat orang-orang didalamnya terstimulasi untuk menciptakan suasana positif di dalam rumah. Sebuah rumah yang  dihiasi senyuman sejak pagi hingga malam harinya, sehingga penghuninya bisa nyaman dan tentram beraktifitas di dalamnya. Istriku bisa berkreasi dan memasak dengan nyaman, begitupun aku bisa membaca buku, belajar, dan mengerjakan pekerjaanku dengan leluasa. Semua terbiasa untuk mandiri mengerjakan tugas-tugas rumah dan saling mengisi, mengingatkan dengan cara-cara yang positif.

Dari segi arsitektur rumahku memiliki sistem pertukaran udara yang baik, cukup sinar matahari, dan cukup rapi walaupun mungkin akan ada banyak barang di dalamnya hehe. Di luar ada halaman yang tak terlalu luas, yang ditanami rerumputan dan beberapa pot tanaman hias namun juga tidak terlalu ramai.

Di ruang keluarga cukup sederhana, ada sofa merah yang menghadap televisi dimana tempat kami menikmati menonton film dan bersendagurau. Sebuah meja kecil didepannya untuk menaruh cemilan ataupu remote TV. Ada lampu gantung modern yang menjuntai dari langit-langit yang menciptakan kesan nyaman.

 

Untuk ruang tidur, aku memiliki tempat tidur yang menciptakan masa-masa romantis yang akan selalu kujaga sampai tua hehe. Cat tembok bernuansa creamy, lampu tidur di salah satu sisi tempat tidur, dan lukisan abstrak yang tergantung di salah satu dindingnya mempercantik kamar tidur yang tak terlalu besar tersebut.

Lalu ada bagian dapur yang tidak terlalu besar yang bergabung dengan ruang makan dimana  istri saya suka masak untuk bekal saya ke kantor dan sehari-hari. Dan saya pun sering membatu dia memasak sambil bergurau hhe

Untuk kamar mandi, cukup sederhana aja yang jelas aku ingin ada wastafel didalamnya beserta cermin.

Alhamdulillah akhirnya bisa tervisualisasikan juga rumah idaman nanti bersama istri tercinta, semoga lekas terwujud ya..aamiin 🙂

Mirza & Dea

Tangkuban Perahu – Minggu, 9 Januari 2011