Saya ingin menuliskan sebuah fenomena yang sering muncul dalam kehidupan sehari-hari kita yang saya rasa sangat menarik dan penting untuk kita pahami bersama.

Arti Bersyukur?

Kadang suatu ketika kita telah melakukan suatu hal semaksimal yang kita bisa namun mendapat hasil yang menurut kita tidak memuaskan.

Sedangkan dilain pihak ada seseorang yang terlihat tidak bersusah payah dalam melakukan suatu hal yang sama dengan yang kita kerjakan  namun dia mendapat hasil yang baik menurut kita.

Kadang kita merasa kita telah melakukan yang terbaik yang dapat kita lakukan namun hanya kegagalanlah yang kita terima.

Sedangkan seseorang dengan bermacam kekurangan yang kita tuduhkan mampu meraih segala hal yang tertanam dalam hati kita yang sangat inginkan namun tak pernah kita dapatkan.

It look’s like lives not fair … 😦

Segala kegagalan, maupun keberhasilan adalah suatu pesan berharga yang dapat kita ungkap maknanya, karena seratus persen hal tersebut sudah atas kehendak Pencipta kita, Allah Subhanahuwata’ala.

Oleh karena itu disini saya ingin menuliskan sedikit pertanyaan hasil pemikiran saya.

1. Pertanyaan pertama, apabila kita menjadi tokoh yang diberi kesulitan apakah kita merasa rugi ?
2. Pertanyaan kedua, apabila kita menjadi tokoh yang diberi kemudahan apakah kita merasa beruntung ?

Tentu saja kita menjawab Ya! 🙂

Tentulah pasti saat kita mendapat kesulitan kita merasa rugi, saat kita mendapat kemudahan kita merasa beruntung.

Namun menurut saya masih ada yang perlu digarisbawahi dari jawaban kita diatas yaitu…

Kita menilai hanya dari pandangan kedua mata kita, cobalah pikirkan dengan kecerdasan kita dan rasakan dengan hati kita..

Kaya, Miskin, Baik, ataupun Buruk adalah tergantung dari persepsi kita terhadap sifat2 tersebut. Terkadang kita terlalu mudah mengartikan sifat2 tersebut sehingga penilaian kita semakin kurang objektif dan cenderung subjektif yang mengakibatkan terpetiklah kesimpulan yang salah.

Misal, apabila kita gagal dalam salah satu ujian yang sangat penting, lantas kita pun mengutuk diri kita sendiri, menyesali nasib  sial ini seolah-olah seumur hidup sejak lahirpun  kita belum pernah merasakan kesenangan, nikmat dan karunia yang diberikan oleh Allah SWT.

Apabila kita terus terjebak dalam pemikiran ini, kapankah kita akan bangkit ?

Padahal apabila kita pikirkan lebih dalam, kegagalan tersebut hanyalah sedikit ‘ketidakenakan’ yang kita rasakan dibandingkan dengan nikmat yang lain.

Misal untuk beberapa orang kita masih memiliki orang tua yang masih menemani kita sampai sekarang, hidup berkecukupan, panca indera masih berfungsi dengan baik, masih banyak suadara -saudara dan teman-teman kita yang memberikan dorongan serta semangat pada kita, kesehatan kita, dan tak berhingga nikmat lain yang Allah berikan kepada kita setiap mikro detiknya.

The conclusion is…

Untung, rugi, baik maupun buruk adalah relatif apabila kita memandang dari kedua mata kita. Sehingga amatilah sisi baik dari setiap hal yang kita alami, jangan terburu-buru dalam mengambil kesimpulan, pikirkan dengan kecerdasan yang kita miliki, dan rasakan dengan hati kita.

Dengan begitu, kita dapat mencoba memulai memetik hikmah yang tersimpan dalam kehendak Allah tersebut.

Arti bersyukur menurut definisi saya sendiri yang agak gado-gado ini adalah ketika kita mendapat kebaikan atau keburukan  dari yang setiap hal yang kita alami dalam hidup ini, semua bersifat relatif : baik belum tentu untung, dan buruk belum tentu rugi, ada hikmah dibalik itu semua yang akan kita dapat dengan selalu bersyukur. 🙂

Surat Al Baqarah 216

Surat Al Baqarah 216

…..Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 2:216)