Azrim

Silau matahari hendak membangunkannya, namun di pojok tempat tidurnya ia  masih tertidur. Air matanya masih belum kering, lelehan air matanya masih kadang mengalir di lembut pipinya. Di tengah temaram cahaya sore itu, jauh didalam hatinya ia merasa kesepian.

Kegelapan bukan hanya menyelimuti sisi-sisi kamarnya, namun juga ruang-ruang hatinya. Sesekali dengan kelopak mata yang basah, diatas tempat tidurnya, ia menghadapkan wajahnya ke jendela, seakan melihat hari-hari kedepan yang akan semakin berlalu hampa.

Adzan Ashar pun berkumandang, ia pun segera bergegas ke kamar mandi di halaman belakang rumahnya untuk berwudhu. Tanpa mengganti seragam batik sekolah dasar yang ia kenakan, anak itu langsung bergegas mengunci pintu depan dan segera meninggalkan rumahnya untuk berangkat ke masjid.

Anak dengan postur tubuh mungil dan menggemaskan itu pun keluar dari kompleks perumahannya, menuju masjid di tengah alun-alun kota yang kurang lebih berjarak seratus meter dari rumahnya. Untuk seukuran anak kelas empat SD, sepertinya kegiatan shalat di masjid adalah hal yang telah ia lakukan setiap hari. Pelajaran yang diajarkan oleh sang ayah, yang sangat ia cintai dan kini sedang ia rindukan.

Letak masjid alum-alun yang  megah tersebut berada di lantai dua sebuah madrasah sehingga membuat anak itu terlihat kesulitan untuk menaiki banyaknya anak tangga. Namun seakan tidak ingin kalah dengan jemaat lain, dengan kaki – kaki mungilnya ia berhasil menaiki tangga tersebut perlahan demi perlahan.

Setelah melewati pintu masjid, terlihatlah ornamen-ornamen kaligrafi dihiasi dengan tinta emas menghiasi dinding-dinding atas masjid tersebut. Paduan warna hijau dan putih menghiasi sekeliling dinding di dekat mimbar khatib yang terbuat dari kayu jati gelap berukir lafadz Allah ditengahnya.

Tampak masjid itu semakin ramai dengan para jemaat. Hampir keseluruhan jemaat yang tampak di mesjid itu adalah pegawai kantor pemerintah berseragam warna coklat. Tampak juga beberapa lelaki paruh baya yang sedang khusuk shalat rawatib yang tidak lain adalah pedagang yang biasanya menjajakan dagangannya di sekitar alun-alun.

Lantunan iqamad pun berkumandang, anak itu langsung mengambil shaff paling depan, tepat dibelakang sang Imam yang sudah cukup sepuh. Pemandangan yang agak kurang lazim memang, yaitu pada shaff pertama ada seorang anak kecil pada sekumpulan barisan orang dewasa.

Dengan khusyuk, bibir anak itu komat-kamit membaca bacaan shalat. Demikian ketika shalat Ashar selesai ia langsung komat-kamit kembali membacakan do’a-do’a dengan posisi tangan menengadah ke langit-langit. Ia pun kini membayangkan wajah teduh Ibunya dengan senyum terindah di dunia, yaitu ketika menyapanya setelah selesai berdo’a selepas shalat shubuh, sebelum menanggalkan mukenanya. Namun kini telah genap satu minggu tak dapatlah lagi ia melihat sosoknya.

Terdengar sayup-sayup petikan-petikan do’a terpanjat..

” Ya Allah, sungguh aku belum pernah meminta apapun kepadaMu, selain do’a untuk menjaga Ayah dan Ibuku.”

” Agar mereka senantiasa Engkau berikan tempat yang terbaik di sisiMu. Yaitu Surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai “

” Gugurkanlah segala dosa-dosa mereka, dan terimalah amal ibadah mereka selama mereka hidup.”

” Ya Allah, sungguh saat ini aku sangat merindukan Ayah dan Ibuku..”

Tanpa tangis, anak itu pun mengakhiri do’anya. Kehampaan kini kembali terasa dalam dada anak tersebut. Terbayang hari-hari kedepan yang tampak akan semakin berat tanpa sosok kedua orangtuanya. Seakan dunia ini telah kehilangan cara untuk kembali membahagiakannya.

Beberapa saat kemudian hadirlah pemuda setengah baya mendekati dan mencoba menguatkannya. Memeluk dan mengusap rambutnya. Dengan senyum menyejukkan pemuda itupun berkata,

“Ayo dik, kita pulang. Maaf ya kakak telat pulangnya..”

Pemuda itu adalah kakaknya. Kakak yang sabar dan tabah atas kehilangan kedua orang tuanya, yang mengantar jenazah kedua orang tuanya ke liang lahat dengan hati yang kuat. Yaitu kakak yang bisa menjawab semua kegundahan yang dialami adiknya.

Selama perjalanan pulang, sang kakak pun bercerita jenaka perihal apa yang dialaminya di kampus sehingga ia telat pulang ke rumah, walaupun agak dibuat-buat sang Adik pun tersenyum dan tertawa terpingkal-pingkal dibuatnya.

Dalam hati kecilnya ia berkata,

“Ya Allah terima kasih Engkau masih menganugerahkan Kakakku ini..”

Dan senyuman sang anak pun semakin merona penuh arti.

============

Alhamdulillah diselesaikan di:

Cimahi, 7 Juni 2010,  pada sepertiga akhir malam..