Kesunyian membawaku pada lelap tidur panjang. Melayang-layang pelan, perlahan  entah kemana. Seakan ruh ini sedang terlepas dari alam ragawi menuju samudera alam mimpi yang tidaklah nyata. Alam dimana angan dan kenyataan menjadi satu dalam tarian komedi satir nan indah bagi sang manusia yang sedang hanyut terlelap dalam pembaringannya. Dalam gelapnya malam, di usiaku kini ku berusaha mencari seutas tali hitam yang memisahkan antara apa-apa yang hak dan apa-apa yang bathil, sendiri. Ku pasrahkan diri ini kepada seluruh takdir-Mu ya Rabb.

Kini izinkanku mengingat kembali kenangan itu. Dimana masa nan indah dan sedih datang silih berganti hingga saat ini aku menjejakkan kaki. Aku bukanlah siapa-siapa, namun karena jasa kedua orang tuaku lah yang membuatku berhasil mendapatkan semua ini.

Dua puluh tahun lalu, aku terlahir di dunia ini dalam keadaan tak memiliki apapun, tak sehelai benang pun ku memilikinya, tak sekeping logam pun. Di rumah sakit di sebuah kota kecil di pesisir barat daya provinsi jawa barat, yaitu kota Pelabuhan Ratu, aku masih belum dapat membuka mata. Dengan tangisan yang menyeruak, aku disambut haru oleh dua orang yang tak kukenal siapa, namun ku merasakan adanya cinta dan kasih sayang yang kuat pada diri mereka. Merekalah ibu dan ayahku. Terlahir dengan berat 4,5 kilogram kini akupun resmi menjadi bagian dari anggota keluarga kecil mereka.

Sejak kecil mereka merawatku dan menyayangiku bagai matahari yang menyinari bumi dengan cahayanya yang tak terkira. Guru pertamaku yang mengajari arti hidup ini. Bagaikan malaikat yang setia melayani siang dan malam ikhlas tanpa pernah meminta balasan.

Pernah pada saat umurku empat tahun, aku sedang sakit. Ketika itu aku sedang berada di pangkuan ibuku dalam perjalanan pulang di sebuah angkot desa yang penuh sesak. Dan pada saat itu aku memuntahkan semua makanan yang ada di isi perutku di gamis dan kerudung ibuku. Dalam penglihatanku pada waktu itu kulihat ibuku dengan ikhlas “menerima” apa yang kuberi padanya tanpa ada rasa sesal di wajahnya, sungguh luar biasa. Ia membersihkan diriku dan kotoran yang menempel di gamisnya. Lalu dengan senyum terindah di dunianya ia berkata: “Sudah, tidak apa-apa Nak, ga usah nangis ya..”

Ayahku adalah guru terbaik sepanjang masa, guru sejarah ketika ia bercerita atau mendongeng, guru bahasa ketika ia mengajariku berbicara, dan guru agama ketika ia mengenalkanku dengan Islam. Ya, sejak kecil aku tumbuh dengan kebiasaan-kebiasaan Islami yang membuatku tentram dalam menjalani kehidupan ini.

Pada saat aku berumur sepuluh tahun, adikku pun lahir.  Ia terlahir dengan berat 5,5 kilogram, lebih berat satu kilogram daripada diriku sewaktu lahir. Secara keseluruhan ia memang agak lebih berisi dibandingkan diriku. Tubuhnya yang mungil kerap mendapat pujian dari banyak orang. Berkat pendidikan yang baik dari ayah dan ibuku ia tumbuh menjadi anak yang sehat, cerdas, aktif, dan perasa terhadap sekelilingnya. Ia menjadi sumber kebahagiaan bagi keluarga kami.

Namun cobaan itu pun datang. Pada ulang tahunnya yang ke-5 wajahnya terlihat pucat sekali. Saat kupegang tubuhnya terasa panas. Karena mengira hanya flu biasa, ibu pun memberinya paracetamol. Panas tubuhnya memang sempat turun, namun empat hari kemudian panas lagi. Bahkan muncul bercak-bercak kebiruan di daerah kaki. Melihat kondisi adikku, ibu dan ayahku segera membawanya ke dokter spesialis anak yang juga seorang dokter ahli darah. Setelah diperiksa, dokter mencurigai adanya kelainan darah dan menyarankan untuk menjalani pemeriksaan di laboratorium.

Benar saja hasil laboratorium menunjukkan adikku menderita kanker darah (leukemia) tingkatan kedua dimana terjadi produksi sel darah muda yang sangat pesat. Menurut dokter bila tidak segera ditangani, penderita akan segera meninggal dalam hitungan bulan. Ayah dan ibuku pun terdiam dan saling berpelukan. Dengan nada bergetar mereka pun mengucap: “Lahaula wala kuwwata illa billah…” (Tak ada daya upaya selain atas izinmu ya Allah)

Karena ibu berprofesi sebagai dokter ibu pun tahu langkah – langkah selanjutnya mengenai pengobatan untuk adikku. Akhirnya adikku pun dirawat di rumah sakit selama berbulan-bulan, entah sampai kapan. Kami bersyukur selama pengobatan di rumah sakit, walaupun adikku masih anak-anak ia selalu menurut dan tidak pernah mengeluh walau harus minum obat dan disuntik berkali-kali. Walaupun begitu, adikku pernah mengluh sekali dengan wajah polosnya ia berkata : “Bu, aku kok apes ya kena penyakit ini . Ayah dan ibuku hampir tak kuat menahan tawa sekaligus haru. Ayahku pun berkata: “Adik, ini semua adalah ujian dari Allah, insya Allah dengan kita tabah, sabar,  dan tawakal kita akan semakin disayang sama Allah. ” . Merasa ujian ini sungguh sangat berat dan menghabiskan tenaga, ayah dan ibuku sering memanjatkan do’a di sepertiga malamnya selepas shalat tahajud demi kesembuhan adikku. Terkadang kulihat mereka bersimbah air mata dalam keheningan malam yang menusuk.

Dua tahun pun berlalu, dengan perjuangan tanpa henti akhirnya adikku sudah tidak perlu menginap kembali di rumah sakit. Penyembuhan kini dilakukan dengan teratur meminum obat yang diresepkan di rumah. Dan tahun inipun tahun dimana adikku masuk ke bangku sekolah dasar. Seakan tidak pernah mengalami sakit yang ia derita, ia pun belajar dan berteman di sekolah dengan semangat.

Namun, takdir Allah memang tidak dapat dirubah. Pada saat adikku kelas empat SD, ayahku meninggal akibat sakit liver akut dikarenakan terlalu keras bekerja, dan membimbing masa-masa kecil kami. Terang saja, ayah bekerja di suatu perusahaan besar di bidang telekomunikasi. Sudah menjadi rutinitas ia biasa pulang kantor cukup larut malam. Ia berkata ia melakukan itu semua karena pengabdian, karena tak terhitung berapa jumlah nasib pegawai yang berada di tangannya.  Namun seakan ia juga tidak dapat meninggalkan kewajibannya mendidik anak-anaknya, ia pun selalu membangunkan kami pada pukul empat pagi untuk bersama-sama berangkat ke masjid di kompleks kami yang di kanan-kirinya masih berupa persawahan. Selepas shalat shubuh ia pun mengajari kami mambaca Al Qur’an, mengajari kami sholat, dan menyampaikan wejangan-wejangan yang sangat berguna. Sepanjang perjalanan pulang dari masjid, kami pun sering bertanya mengenai hal-hal yang kami temui di jalan. Sungguh kenangan yang tak dapat kami lupakan.

Belum lama kami berduka atas meninggalnya ayah, ibu kami pun meninggal tepat seminggu setelah ayah dimakamkan. Ibu memiliki penyakit yang sama dengan adikku, yaitu leukemia. Namun kata orang, penyakitnya adalah penyakit masa mudanya yang kini muncul kembali. Aku dan adikku sama sekali belum pernah mengetahuinya.

Orang-orang bilang, pada waktu ibu muda, penyakitnya sembuh dikarenakan ibu mengenal ayah, hingga akhirnya menikah dan mempunyai anak. Aku jadi ingat ketika ibu bercerita tentang ayah semasa muda.

Kata ibu, ayah waktu itu terkenal alim, serius, dan misterius, namun sangat erat ketika berkawan dengan teman-temannya. Ia sosok yang dikagumi banyak wanita, namun tetap sederhana dalam kesehariannya. Dan satu lagi, ayah adalah orang yang serba bisa. Bisa marah namun bisa juga sangat lembut, kata ibu dengan sedikit tersenyum walaupun kami tak tahu maksud dari senyumannya.

Dari cara ibu menceritakan ayah, aku yakin ayahlah yang selama ini menjadi obat dari penyakit yang dideritanyanya. Obat yang sangat langka dan tidak dapat didapatkan dimana-mana, hanya ada pada diri ayah. Sehingga ketika ayah meninggal, kondisi fisik ibu pun langsung menurun hingga sampai saat menghembuskan nafas terakhirnya.

Benarlah sebuah kutipan yang berkata, manusia tidak dapat hidup tanpa cinta. Cinta manusia yang bersumber dari cintanya kepada Allah SWT, sang pemilik kehidupan. Yaitu cinta suami kepada istrinya, istri kepada suaminya, orang tua kepada anak-anaknya, dan juga cinta anak-anak kepada orang tuanya. Dengan cahaya cinta suci ini, orang tua kami menciptakan sesuatu yang disebut sakinah, mawaddah, dan warrohamah.

Dan saat ini, aku pun terbangun. Adzan shubuh pun berkumandang, aku pun bersiap memakai baju takwa dan bergegas melangkah ke kamar adikku untuk membangunkannya. Kini kamipun segera akan berangkat ke masjid, persis dulu ketika ayah masih hidup. Adikku melihatku sejenak terdiam di depan pagar rumah kami. Ia pun mengajakku untuk segera berangkat. Aku pun tersenyum.

===========

Alhamdulillah, diselesaikan di

Cimahi, 15 Juni 2010 pada saat panggilan dzuhur berkumandang.