Alhamdulillahirabbil alamin..

Malam sedang indahnya,

Kepulanganku dari masjid sepulang sholat tarawih ditemani gugusan bintang yang bercahaya di langit dan desir-desir angin yang membelah ladang-ladang sawi yang mulai bermekaran, menciptakan kesyahduan menikmati malam di bulan Ramadhan ini. Bunyi-bunyian jangkrik dan syair-syair Al- Qur’an yang merdu terdengar dari segenap penjuru bumi, semakin menentramkan hati ini untuk bertasbih atas segala anugerah-Nya. Tanpa terasa, udara dingin tampak mulai mencoba menembus baju takwaku, dengan agak berat hati kupercepat langkahku untuk segera sampai di rumah.

=======

Di rumah, sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan Ibu, setelah melepas baju takwa tanpa menunda lagi saya langsung beranjak ke dapur untuk segera melahap piring-piring dan gelas-gelas kotor yang bertumpuk untuk segera saya cuci.

Saya mulai mencuci piring-piring terlebih dahulu lalu setelah itu saya pun beralih ke wajan pengorengan. Setelah memastikan semuanya telah bersih dan wangi kini giliran mencuci gelas-gelas, sendok, dan garpu satu per satu. Sampai perhatian saya teralihkan oleh sebuah gelas biasa yang berisi tulisan, angka, dan gambar-gambar. Entah sudah berkali-kali saya menggunakan gelas ini tapi baru kali ini saya memperhatikannya dengan lebih serius.

Saya kira gelas ini adalah gelas souvenir biasa, mungkin hadiah dari beli indomie atau pasta gigi, namun ternyata ini adalah sebuah souvenir pernikahan. Yang unik pada gelas tersebut dicantumkan tanggal-tanggal penting bagi kedua pasangan tersebut yang tentunya sarat hikmah bagi pemuda yang belum menikah seperti saya (hehe). Mulai dari tanggal lahir, tanggal mulai berkenalan, tanggal akad nikah, sampai tanggal walimahannya. Cukup mengalirkan romantisme tersendiri bagi orang-orang yang memperhatikan gelas tersebut (apa cuma saya saja ya? hehe)

Memang di lingkungan pergaulan saya entah kenapa pernikahan selalu menjadi  perbincangan yang selalu hangat. Maklum, karena kita sama-sama sudah mau lulus atau mungkin juga karena sudah banyak kakak kelas ataupun teman seangkatan yang sudah mendahului melangkah ke ‘alam’ pernikahan.

Contoh punya contoh, kakak kelas saya di lab, akhwat, sudah menikah dan sekarang mempunyai seorang anak berumur satu setengah tahun. Suaminya sendiri masih kuliah di jurusan Planologi ITB, namun sudah bisa menafkahi sendiri anak dan istrinya, Subhanallah. Kakak kelas saya pun sering bercerita pada sesama asisten mengenai rasanya menikah dan berkeluarga. Kita jadi memiliki pengetahuan ‘tambahan’ ataupun motivasi untuk menikah juga hehe. Kita pun jadi tidak asing lagi kalau beliau bilang “Suamiku udah ngejemput.” atau “Mertuaku ada di rumah”.🙂

Contoh lainnya, teman dekat saya sesama Steering Commitee MPAI 2010, dengan tiba-tiba ternyata sudah melamar seorang akhwat yang cukup tersohor akan kecantikan dan kesholehannya (sampai teman-teman ikhwan saya keliatannya banyak cukup yang syok hehe). Walhasil kini mereka sudah menikah dan tinggal di sebuah rumah di kompleks perumahan yang tidak jauh dari kampus saya.

Dan beberapa lagi teman seangkatan saya yang sudah menikah (kayanya kepanjangan kalau mau diceritain satu-satu), bahkan praktikan saya yang notabene nya adik kelas setelah ditanya ternyata sudah menikah di tahun pertamanya kuliah..Subhanallah..

Kalau saya sendiri ?

Pertanyaan yang susah-susah sulit dijawab..

Wallahu alam, target saya insya Allah di tahun 2013 (aamiin), mengenai realisasinya saya serahkan pada penguasa hidup saya, Allah SWT.  Kalau kata kakak kelas yang sudah menikah: “Asal ada kemauan dan niat menikah karena Allah, insya Allah dimudahkan dalam setiap langkahnya (aamiin).”

=======

Merenungi gambaran tiga tahun lagi seperti apa, apakah saya telah siap, apakah dia pun telah siap, adalah gambaran dari apa yang kami lakukan sekarang..