pisces of pink

“Innahamdalillah, Ya Allah aku berlindung pada-Mu dari segala keburukan lisanku, dan keburukan perbuatanku..hanya kepada-Mu lah aku memohon ampun…”

======

Malam ini aku masih belum terlelap, terhanyut dalam buaian malam, dan perlahan-lahan tenggelam dalam pusaran tanya yang perlahan menghilangkan ketenangan dari batin ini. Dalam gelap sesekali ku perhatikan layar telepon genggamku, masih belum ada pesan darinya. Kuputuskan untuk kuhubungi ia besok, saat kesehatanku lebih baik dan hati ini masih selaras dengan pikiranku. Kuakhiri penantian panjang ini,  kutenangkan hatiku dengan mengisi malam ini dengan istigfhar sebanyak-banyaknya.

Pukul empat tepat aku bangun, makan sahur untuk puasa sunnah di bulan Syawal. Cerita punya cerita, Rasulullah menyampaikan bahwa barangsiapa setelah menunaikan puasa di bulan Ramadhan dan melanjutkannya enam hari puasa di bulan Syawal maka ia bagaikan telah berpuasa setahun penuh. Kembali pada saat setelah selesai makan sahur, sambil menunggu subuh aku mencoba menelisik kedalam hati ini, apakah yang membuat diriku menjadi sedemikian tidak nyaman dengan situasi itu.

Dimulai dari kisah K.H Rahmat Abdullah pada film Sang Murobbi.

Film Sang Murobbi adalah film yang menggugah semangat untuk berdakwah, mengajak kepada jalan yang benar. Film ini selesai dibuat pada tahun 2005 dan saya pun baru menontonnya pada awal tahun ini. Film ini walaupun cukup sederhana namun penuh dengan ibrah mengenai perjalanan hidup K.H Rahmat Abdullah dari muda hingga mendirikan Partai Keadilan (sekarang Partai Keadilan Sejahtera) dan pada akhirnya menjadi anggota DPR RI.

Salah satu scene yang menarik adalah setelah K.H Rahmat Abdullah menikah, beliau memanggil istrinya dengan panggilan istimewa ‘Nay’. Istri beliau pun kebingungan dan berlanjut bertanya mengapa ia memanggilnya dengan panggilan seperti itu. K.H Rahmat Abdullah menjawab itu adalah panggilan sayangku yang kuberikan padamu. Diambil dari suku kata terakhir namanya, lalu ditambah dengan huruf  ‘y’.

Sekilas mirip dengan yang kau alami, aku pun jadi terfikir..hmmm ‘Dey’ ?

Perilaku seseorang kepada kita sejalan dengan reaksi kita terhadap perilaku tersebut.

Apabila ada seorang lelaki yang menyampaikan kata-kata merayu pada seorang  perempuan (entah mengajak nonton dll) di depan umum, bukan hanya padamu, aku merasa lelaki tersebut kurang menjaga kesantunannya dalam menjalin hubungan dengan seorang perempuan.  Bahkan walaupun telah menikah sekalipun, hal tersebut kurang santun dilakukan di depan umum.

Lalu ketika perempuan tersebut tidak merasakan ketidaksantunan si lelaki, akupun mulai bertanya-tanya mengenai kesantunan dari perempuan tersebut? Hmmm… dan dengan sikap seperti itu kedepannya aku yakin si lelaki pun akan terus merayu si perempuan di depan umum.

Kesantunan itu penting bagiku, seorang lelaki ataupun perempuan akan menjadi harta yang bernilai ketika mereka menjaga kesantunannya. Coba kita perhatikan apabila si perempuan menolak perilaku lelaki tersebut, karena ingin menjaga kesantunanya. Aku yakin setidaknya lelaki tersebut akan mengurangi perilakunya atau bahkan berhenti.

Aku Cemburu?

Aku tidak dalam kondisi yang tepat untuk cemburu. Hmmm.. setidaknya masih banyak kekurangan yang kumiliki untuk merasa benar menyalahkan dirimu, ya kan? Aku hanya ingin memberikan sedikit sudut pandangku, padamu.

=======

Aku harap dinamika ini bisa kita petik hikmahnya bersama, tidak dengan saling menyalahkan. Aku pun pasti memiliki kesalahan padamu yang mungkin belum kau ungkapkan. Aku masih banyak memiliki kekurangan. Akan lebih baik apabila kita dapat membicarakannya bersama. Bukan terhadap masalahnya, namun lebih kepada sikap kita bersama menghadapinya🙂

ps: maaf ya malem ini aku belum berani ngesms dirimu sesuai yang aku tulis diatas haha..