Udara pagi selepas subuh menyelimutiku dengan kesejukannya. Membawaku semakin tenggelam di dalam tidurku, semua semakin meredup memasuki alam mimpi, lalu sesaat setelah itu menjadi terang menampakkan seluruh angan-angan yang tersimpan di dalam hati. Aku menangis, tersenyum, menyesal, tertawa, bahagia, sedih, bersyukur,  semuanya berpadu-padan bagai membentuk sebuah aliran emosi yang mengalir deras. Namun sebenarnya saat ini aku masih tersadar. Aku masih bisa merasakan cahaya matahari yang mulai masuk dari jendela kamarku meski mataku saat ini tertutup. Aku masih sadar bahwa angan-angan itu nyata adanya beserta ribuan emosi yang menyertainya.

Kusebut Engkau Dewi Pagi

Bergerak lincah memasuki relung-relung hatiku, menebar kesejukan dan kenyamanan yang dalam

Sungguh kecantikanmu, pesonamu, khayalmu, adalah ciptaan-Nya yang terindah

Setiap detak jantungku dan tarikan nafasku tak henti-henti memujimu ketika kita bertemu

Kudengar burung-burung berkicau menyampaikan sukacita melihat senyumanmu

Teman masa kecilku telah tumbuh menjadi Dewi Pagi

Dan tak terasa kini kami telah dewasa

Saat ini tak ada ensiklopedia kata yang dapat menuliskan seluruh perasaanku padamu

Tak ada tangkai bunga yang cukup untuk bisa menyampaikan perasaan ini

Dalamnya lautan pun tak dapat membendungnya

Aku berdo’a

Semoga engkau selalu dalam lindungan-Nya

Tetaplah menjadi Dewi Pagi ku

Aku berusaha

Semoga kita akan selalu bersama