Beratapkan gugusan bintang gemintang yang berkelap-kelip, kami berjalan pulang dikelilingi beberapa petak sawah yang padinya belum menguning. Udara dingin yang berhembus mencari-cari celah untuk memasuki baju takwa yang kami kenakan. Di leherku, si Kecil yang baru berumur empat tahun mengeratkan jepitan kakinya dan menepuk-nepuk peciku bersemangat. Ya, kami baru pulang menunaikan solat subuh di mesjid tak jauh dari rumah kami. Hari ini dengan sengaja kupilih jalan pulang yang lebih jauh dari biasanya melewati sawah-sawah untuk sambil mengajaknya jalan-jalan.

Suara-suara alam memenuhi telinga kami. Suara gemericik air yang mengalir lembut, hembusan angin yang mendesir, dan suara-suara penghuni sawah lainnya yang seakan-akan masih terjaga sejak malam hingga subuh ini. Dengan hati-hati aku melangkahkan kaki agar tak terpeleset di pematang sawah ditengah pagi yang masih gelap ini. Si kecil entah kenapa diam tak bersuara, anteng pikirku. Kulihat kepalanya berputar-putar 360 derajat memperhatikan setiap detail suasana selepas subuh ini.

Si kecil bertanya, “Yah, itu suara apa?” (sambil menunjuk).

Aku balik bertanya, ” Yang mana?”

Si kecil :  “Yang tadi..” (memeluk kepalaku lebih  erat)

Aku : ” Oh itu suara katak sawah..” (sambil menjaga keseimbangan)

Didalam hati aku bergumam, anakku ternyata mirip sama ibunya, pas lagi memeluk erat banget sampai-sampai hampir mau jatuh haha

Si Kecil : “Yah, bintang kok banyak banget? kok kelap-kelip?” (menunjuk ke langit)

Aku : “Kelap-kelip karena bintang jaraknya jauh banget dari kita..cahayanya kesulitan sampai ke bumi jadinya kelap-kelip” (mencoba menjawab dengan jawaban yang simpel sesuai dengan usianya, padahal yang ingin aku sampaikan sebenernya : karena cahaya bintang terdifraksi oleh perbedaan kerapatan lapisan atmosfer bumi sehingga intensitas cahayanya terlihat  berubah-berubah haha)

Si Kecil : “Ooh..”

Aku : “Iya, bagus ya bintang-bintangnya.. itu semua ciptaan Allah, bintang-bintang tetep ada di langit dan bikin pemandangan yang indah buat orang-orang yang bangun pas subuh..makanya adik harus bangun pas solat subuh ya?”

Si Kecil : “Iyaaa..” (jawabnya santai)

Tak lama kemudian karena terlalu erat dipegang peci yang si Kecil pegang lepas dari kepalaku

Aku : “Adik, peci ayah pasangin lagi dong”

Si Kecil : “Buat Adik aja ya Yah..” (tertawa)

Aku : “Waahh Adik kembaliin peci Ayah.. (sambil bercanda berusaha mengambil peci dari si Kecil di atas pundak)

Si Kecil : ” Ga boleh…” (tertawa)

Aku : “Balikin doong.. nanti dijatuhin ke sawah loh haha..” (memiring-miringkan badan ke arah sawah)

Si Kecil : (tertawa terbahak-bahak)

Pagi pun sudah hampir menjelang, tak terasa udara mulai menghangat, dan matahari pun muncul. Di perjalanan pulang kami pun membelikan oleh-oleh sebungkus permen yang dibeli Si Kecil di warung yang kita kunjungi untuk Ibunda tercinta yang sudah menunggu di rumah..